SERANG — Mahasiswa didorong tidak hanya menjadi penonton ketika berhadapan dengan persoalan sosial di lingkungan sekitarnya. Mereka perlu memahami masalah dan mengambil peran sesuai kapasitas yang dimiliki.
Dorongan itu disampaikan Sekretaris Mahasiswa Taktis Demokratis Wanasalam (MATADEWA), Indra Maulana, dalam dialog publik memperingati milad ke-VI MATADEWA di Lansen Coffee, Kota Serang, Minggu (27 September 2026).
Indra mengatakan, organisasi mahasiswa harus menjadi ruang untuk melatih mahasiswa berpikir kritis sekaligus memahami persoalan yang terjadi di masyarakat.
“Kita harus belajar memahami persoalan di sekitar (Kab Lebak-Banten), kita juga harus semakin berani untuk mengambil peran sesuai kemampuan yang dimiliki,” ujarnya.
Menurutnya, enam tahun perjalanan MATADEWA menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan organisasi, termasuk berbagai kekurangan yang masih harus diperbaiki.
“Yang namanya organisasi pasti punya kekurangan, dan itu harus diakui. Dan sekarang kita harus melihat bagaimana kita belajar dari kekurangan itu dan harus bisa memperbaikinya,” kata Indra.
Ketua Umum MATADEWA, Manarul Hidayat, menambahkan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam persoalan masyarakat harus dibangun dengan pengetahuan yang cukup.
Ia menilai, sikap kritis tidak identik dengan menolak setiap kebijakan atau persoalan. Mahasiswa harus memahami masalah terlebih dahulu sebelum menyampaikan sikap.
“Kritis itu bukan berarti selalu menolak. Kita harus tahu masalahnya serta punya alasan yang jelas, lalu menyampaikan sikap dengan cara yang bertanggung jawab, itu kritis namanya,” kata Manarul.
Ia berharap, momentum milad ke-VI tidak berhenti pada perayaan organisasi, tetapi menjadi pijakan bagi MATADEWA untuk menentukan langkah gerakan berikutnya.
“Mahasiswa punya tanggung jawab untuk peka terhadap keadaan. Kalau ada persoalan di masyarakat, dia harus ikut andil dalam upaya untuk ikut menyelesaikannya,” tandasnya.
