Tangis Haru Iti, Sisi Nurani dan Tanggung Jawab yang Belum Selesai


Oleh : Batara Ridwan (RBR)

Panggung politik sering kali identik dengan ruang yang kaku, dingin, dan penuh perhitungan. Publik Banten selama ini mengenal sosok Hj. Iti Octavia Jayabaya sebagai figur pimpinan perempuan seorang Srikandi yang lugas, tegas, dan tanpa ragu menyuarakan prinsip-prinsip perjuangannya secara lantang. Namun, pemandangan di podium Musyawarah Daerah (Musda) V Partai Demokrat Banten di Kota Serang kemarin menyajikan sisi lain yang mendalam dari kepemimpinannya.

Di tengah riuh dukungan dan hangatnya ruang konsolidasi, nada suara Iti bergetar saat menyampaikan pidato. Matanya berkaca-kaca, menahan gelombang emosi yang membuncah di hadapan ratusan kader yang memadati ruangan. Ada sebuah momen kecil yang spontan dan sangat manusiawi: beliau harus beberapa kali menyeka keharuannya dengan punggung tangan, hanya karena satu hal sederhana, tidak ada tisu di atas podium.

Momen kecil tersebut justru menegaskan ketulusannya. Tidak ada pembawaan yang didramatisasi, tidak ada skenario panggung yang berlebihan. Tangis haru yang berusaha ditahannya itu hadir secara alami, memperlihatkan bahwa di balik ketegasan manajerial yang kerap terlihat di permukaan, ada sisi nurani yang sangat peka dan empati yang tebal terhadap amanah organisasi.

Bagi mereka yang memahami dinamika perjuangan, tangisan seorang pemimpin di atas podium bukanlah pertanda kelemahan. Sebaliknya, itu adalah simbol beratnya beban moral yang dipanggul. Air mata itu lahir dari kesadaran bahwa kepercayaaan yang kembali diberikan oleh seluruh kader dari 8 kabupaten/kota se-Banten bukanlah sekadar jabatan politis, melainkan sebuah tanggung jawab besar yang harus dituntaskan.

Masih banyak agenda pembangunan, penguatan organisasi hingga ke tingkat akar rumput, serta aspirasi masyarakat Banten yang perlu terus dikawal. Dorongan personal dan rasa memiliki yang begitu kuat inilah yang menjadikan perjuangan ini terasa belum usai.

Terpilihnya kembali Iti Octavia Jayabaya secara aklamasi pada Musda V bukan cuma penanda keberlanjutan kepemimpinan, melainkan penegasan hadirnya seorang tokoh yang memimpin dengan ketegasan sikap sekaligus kelembutan hati. Dari podium Musda V, publik melihat bahwa kepemimpinan terbaik selalu lahir dari perpaduan antara keteguhan prinsip dan ketulusan nurani untuk terus mengabdi.