About Me

Rena; Wajah Malam Kota Tangerang


Malam ini, narasiku bukan tentang kriminalitas kelas kakap, melainkan tentang seorang gadis yang tertelan oleh bayang-bayang kota.

Saya menemuinya di sebuah ruko berlantai tiga. Di lantai bawah, ada sebuah bar remang-remang tempat musik house berdentum memekakkan telinga. Namanya Rena. Usianya baru 19 tahun, usia yang seharusnya dihabiskan untuk memikirkan skripsi atau sekadar nongkrong santai. Namun, guratan di bawah matanya menceritakan beban yang jauh melampaui usianya.

Rena adalah seorang janda beranak satu asal Serang. Dia membawa luka dari kampung halamannya, sebuah pengkhianatan di usia remaja yang memaksanya menjadi kepala keluarga sebelum waktunya.

"Aku nggak punya pilihan, Mas. Anakku butuh susu, ibuku butuh obat," bisiknya, suaranya hampir tenggelam oleh dentuman bas dari ruangan sebelah.

Saat ini, Rena bekerja sebagai LC. Dia mencoba meyakinkan dirinya bahwa memandu lagu dan menemani tamu minum adalah cara "halus" untuk melarikan diri dari masa lalu yang lebih kelam. Menjadi LC adalah upayanya untuk berhenti menjual diri secara langsung. Dia mencoba berlari, selangkah demi selangkah, menjauh dari kehinaan yang selama ini menghimpitnya.

"Namun, Tangerang malam hari adalah labirin yang kejam"

Seringkali, saat tamu sepi atau bosan, pemilik tempat "memindahkannya" ke lantai atas—sebuah tempat yang mereka sebut Spa. Di sana, statusnya berubah. Rena yang ingin lari, justru kembali terperosok. Mau tidak mau, demi bertahan hidup, dia harus bekerja sebagai terapis di spa yang sebenarnya hanya kedok untuk praktik prostitusi.


Pelarian yang Sia-sia

"Kadang aku merasa sudah sampai di garis keluar," katanya sambil menatap kosong ke arah gelas plastik di depannya. "Tapi malam-malam tertentu, keadaan menyeretku kembali ke dalam kamar itu. Aku benci baunya, aku benci tangannya, tapi aku butuh uangnya."

Air matanya tidak jatuh. Mungkin sudah kering karena terlalu sering tumpah. Rena adalah representasi dari ribuan jiwa di pinggiran Jakarta yang mencoba "berlari dari nasib," namun hanya berakhir berputar di lingkaran setan yang sama.

Saat saya meninggalkan tempat itu menjelang subuh, saya melihatnya kembali naik ke lantai atas. Langkah kakinya berat, seolah setiap anak tangga adalah beban berton-ton. Di Tangerang malam ini, tidak ada pahlawan. Yang ada hanyalah Rena, dan sebuah sistem yang perlahan-lahan menghancurkan sisa-sisa mimpinya.

Ini adalah liputan tersedihku. Bukan karena apa yang kulihat, tapi karena kenyataan bahwa besok malam, Rena akan tetap ada di sana, melakukan hal yang sama, berharap pada keajaiban yang mungkin tidak akan pernah datang.