MAUMERE PANTAS JADI KOTA TOLERANSI

Oleh : John Bala


Kita perlu merawat dan meningkatkan pengalaman baik hubungan antara umat beragama di Sikka selama ini, agar menjadi bangun contoh Toleransi bagi Indonesia.
Oleh karena itu, ide mambangun "Menara Lonceng" yang mungkin juga diikuti oleh Ide membangun "Katedral Agung" di Gelora Samador sebagai simbol kemegahan Katolik itu, harus dibarengi pula dengan peluang ketersediaan lokasi di tengah kota Maumere untuk membangun fasilitas bagi umat 4 agama lainnya.
Dari sisi kesejarahan, Gelora Samador pantas diklaim umat katolik sebagai miliknya, kerena 2 pengalaman besar pernah terjadi di sana, yakni: penyelenggaraan Tahun Maria Nasional dan pusat kunjungan Paus Yohanes Paulus II.
Tapi bukan tidak mungkin kita juga bisa menciptakan sejarah baru untuk umat beragama lainnya yg hidup di Kota Maumere. Menyediakan swadaya dan satu lokasi khusus (Lapangan Umum Kota Baru) yang reprentatif di tengah kota maumere untuk membangung Gereja Protestan, Vihara, Pura dan Mesjid. Ini adalah sejarah baru yg bisa kita buat.
Kata orang bijak, semakin tinggi iman seseorang terhadap ajaran agamanya, maka semakin tinggi pula mutu toleransinya. Demikian sebaliknya, apabila umat hanya taat beribadat tapi rendah imannya, maka semakin rendah pula kualitas toleransinya.
Tinggi dan rendahnya mutu toleransi antara umat beragama selain karena mutu keimanan umat yang tinggi, juga sebabkan oleh kemampuan kita mengaplikasikan nilai-nilai kemanuisaan yg universal. Rujukan paling dekatnya adalah Pancasila dan UUD'45.
Selanjutnya, universalime kemanusiaan tidak mengenal keutamaan Aku dengan mengabaikan Dia dan Mereka. Tidak mengenal pula prinsip mendahulukan kepentingan mayoritas di atas kepentingan minoritas.
Lebih baru Lebih lama